close
*** MASUKAN HTML WIDGET/IKLAN/GAMBAR/DSB DISINI***

Mata rantai peredaran pil PCC di Indonesia

Mata rantai peredaran pil PCC di Indonesia

Kasus puluhan warga di Kendari, Sulawesi Tenggara mengonsumsi Paracetamol Caffeine Carisoprodol (PCC), menjadi pintu masuk Kepolisian mengungkap penyalahgunaan obat yang mempunyai efek lebih dahsyat dari narkoba ini.

Setidaknya dua tempat produksi berhasil dibongkar. Pertama di Kota Cimahi Jawa Barat. Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri menggerebek pabrik tersebut hari Senin lalu. Polisi menemukan sejumlah bahan baku pembuatan pil PCC.

"Iya ini terkait pil PCC. Ada temuan bahan baku di sini," kata Dirnarkoba Polda Jabar Kombes Pol Asep Jenal.

Besoknya, pabrik PCC berkedok toko isi ulang air minum di Jalan Raya Baturaden No 182 dan 184, RT 2 RW 1 Kelurahan Pabuaran Purwokerto Utara, Banyumas digerebek.

Di tempat tersebut polisi mendapati polisi 2 drum pil PCC, 1 drum pil Zenit, 9 drum bahan baku untuk membuat pil PCC, 1 unit mesin produksi dan 2 buah oven pencetak pil.

Bahan-bahan pembuatan pil PCC berasal dari Cimahi. Sedangkan Purwokerto dijadikan sebagai tempat produksi. Selain itu untuk pengemasan dan distribusi dilakukan di Surabaya.

"Pabrik yang ada di Purwokerto ini merupakan pabrik yang dapat menghasilkan ratusan ribu dalam semalam. Ini masih terus kita dalami," kata Wakil Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Ajun Komisaris Besar Polisi John Turman Panjaitan.

Di hari yang sama, Mabes Polri menggerebek gudang pil PCC di Perumahan Wisma Permai Timur 1 Surabaya, Selasa (19/9). Pil tersebut berasal dari produsen di Purwokerto, Jateng. Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Irjen Pol Machfud Arifin menyatakan, Kota Surabaya sebagai gudang untuk transit pil PCC sebelum diedarkan ke wilayah Indonesia Timur.

"Beberapa produsen yang ditangkap ini termasuk di Purwokerto yang jadi produsen terbesarnya. Di Surabaya kan hanya gudang untuk transit. Mungkin diarahkan ke Indonesia Timur, mungkin juga bisa saja ke arah Kendari," kata Machfud, Kamis (21/9). Dikutip dari Antara.

Polisi turut mengamankan seorang berinisial H sebagai tersangka, yang diduga distributor pil PCC.

Adapun barang bukti yang ditemukan antara lain 32 karung berisi 1.280.000 butir obat jenis Zenith, dan 10 karung berisi plastik kemasan Zenith sebanyak 120.000 lembar.

Ditemukan pula tujuh karton berisi 35.000 butir obat carnophen, 36 roll bertuliskan CPC, sebuah mesin press plastik dan 100 botol berisi 100.000 butir dextrometeophan.

Di Makassar, Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Sulsel menemukan 29.000 pil PCC putih di kantor salah satu pedagang besar farmasi PT SS, Jumat (15/9).

Kepala BBPOM Muhammad Guntur menuturkan, 29.000 butir pil PCC itu dikemas dalam 29 kemasan. Masing-masing kemasan plastik berisi 1.000 butir.

Dari keterangan pemilik toko farmasi, puluhan ribu pil PCC itu rencananya akan dikirim ke daerah Papua, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat. Pil itu juga akan diedarkan di Makassar.

Berselang dua hari, BBPOM Sulsel kembali menyita 300 PCC putih yang rencananya dikirim ke Ambon.

Kasus 300 pil PCC ini ditemukan di rumah salah seorang warga di Jalan Sungai Tallo, Makassar. Pil PCC ini dijadikan bisnis rumahan oleh perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga berinisial Rn (32).

"Ratusan butir tablet PCC ini siap kirim ke Ambon hari Minggu kemarin tapi gagal karena Minggu paginya sudah ketahuan dan disita. Pengakuan oknum perempuan Rn kalau barangnya itu berasal dari Kendari, Sulawesi Tenggara kemudian transit di Makassar untuk selanjutnya dikirim ke Ambon," kata Guntur.

Hingga kini, semua pihak yang terlibat dalam produksi dan peredaran pil PCC dalam pemeriksaan Kepolisian, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait